Dua aktivis 1998 ini pernah bersama-sama mengalami masa-masa penuh keterancaman. Kini keduanya berbeda partai, berbeda dukungan capres ...[read more] "> Dua aktivis 1998 ini pernah bersama-sama mengalami masa-masa penuh keterancaman. Kini keduanya berbeda partai, berbeda dukungan capres " />
Minggu, 16 Juni 2019
Follow Us:
17:38 WIB - Dinas PUPR Silaturahim Dengan Wartawan Nisel | 17:38 WIB - Jalan Siwalawa-Onohondro Akhirnya Dikerjakan TA. 2019 | 17:38 WIB - Nenek Sebatang Kara Dibunuh dan Dirampok di Karawang | 17:38 WIB - Pemprov Riau Lelang Transportasi JCH Rute Pekanbaru - Batam | 17:38 WIB - 40 Mobil Dinas Pemko Pekanbaru Bakal Dilelang | 17:38 WIB - Bupati dan Wabup Inhil Serahkan Lencana Gemilang Award
/ Nasional / Desmond Nostalgia Bareng Adian Napitupulu /
Desmond Nostalgia Bareng Adian Napitupulu
Sabtu, 18 Mei 2019 - 21:34:22 WIB

Jakarta (Bidikonline.com) - Dua aktivis 1998 ini pernah bersama-sama mengalami masa-masa penuh keterancaman. Kini keduanya berbeda partai, berbeda dukungan capres pula. Namun kata salah satu dari mereka, itu tak masalah karena politik cuma permainan belaka.

Dua aktivis 1998 itu adalah Adian Napitupulu yang kini ada di PDIP dan Desmond Junaidi Mahesa dari Partai Gerindra. Mereka berdua sedang bernostalgia tentang perjuangan era awal reformasi dulu. Seolah, tak ada perbedaan kubu politik di antara mereka berdua.

Mereka berbicara pada acara 'Merajut dan Merawat Kenangan', di Graha Pena 98, Jl Kemang Utara, No 22, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Sabtu (18/5/2019).

"Saya melewati banyak masalah-masalah berat dengan Pak Desmond dari tahun '95, '96, '97. Kantor kita berdua pernah digerebek tiga kali dan di penggerebekan kedua saya sudah bilang sama Pak Desmond, 'Pak Dir, kita harus pindah.' Tapi dia keras kepala. Dia bilang, 'Ini negara hukum.' Saya masih ingat dia bilang seperti itu. Saya mau bertahan di kantor kita. Dan saya pergi. Saya pergi menggelandang," kata Adian kepada wartawan, mengenang kisah lalu bersama Desmond.

Nostalgia Bareng Adian Napitupulu, Desmond: Politik Cuma PermainanAdian Napitupulu dan Desmond J Mahesa, dua aktivis 1998. (Jefrie Nandy Satria/detikcom)

Yang dipanggil Adian sebagai 'Pak Dir' atau 'Pak Direktur' tak lain dan tak bukan adalah Desmond. Dia dulu adalah Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Nusantara. Sampai sekarang meski sudah berbeda partai, keduanya dan juga kawan-kawan aktivis lain masih sering bertemu.

"Itu (perbedaan partai) tidak boleh kemudian membuat seluruh masa lalu kita, kenangan kita hilang dan memutuskan persahabatan, memutuskan persaudaraan," kata Adian.

Soal pengumuman hasil penghitungan suara Pemilu 2019 yang akan digelar 22 Mei nanti, Adian tak mau mengaitkannya. Ini bukan soal Pemilu, tapi lebih punya relevansi dengan momen Ramadhan yang sering diisi dengan silaturahmi.

"Saya tidak mau mengkait-kaitkan. Tapi bahwa kemudian sekarang momentumnya berkaitan dengan bulan Ramadhan, kita bersilaturahmi wajib tentunya dan kalau orang mengkaitkan, terserah. Kalau saya berpikir, bagaimana pun ini Direktur saya 24 tahun yang lalu dan belum pernah ada pergantian Direktur sampai hari ini," ujarnya.

Dia tak memungkiri, segala dinamika politikus pasti akan dikaitkan dengan Pemilu, misalnya dengan isu people power. Dia mengimbau agar pihak yang hendak mengadakan people power bisa menghargai kesepakatan yang sudah dirajut bersama.

"Saya percaya negara ini punya mekanismenya dan kita sudah percaya mengikuti mekanisme demokrasi bernama Pemilu yang dibentuk negara, KPU-nya ditentukan bersama di DPR, dan sebagainya. Hormati saja bagaimana pun hasilnya tanggal 22 nanti," kata Adian.

Desmond sendiri selalu menanggapi dinamika Pemilu, people power, dan perbedaan pendapat dengan kata "biasa-biasa saja". Baginya, politik ini memang biasa saja dan sekadar permainan sementara. Yang penting bukan politik, tapi tujuan dari politik itu sendiri.

"Dari dulu saya melihat politik itu cuma mainan. Mainan ini kan mainan sesaat, tapi tujuannya apa, itu yang paling penting. Jadi saya tidak pernah merasa berbeda dengan siapapun. Karena bagi saya, kita berpolitik dari dulu sampai sekarang pun nggak ada yang berubah," ujar Desmond.

Kalau saja ada pendapat Adian yang dia dengar tidak sesuai dengan pendapatnya, karena berseberangan partai, maka Desmond hanya akan senyum saja. Dia yakin Adian juga bakal sama santainya melihat dia mengumbar pernyataan di televisi. Soal konteks Pilpres yang sering memancing emosi rivalitas politik, Desmond tak lagi risau.

"Seperti sekarang misalnya, sudah tidak penting lagi siapapun yang menang, karena dua-duanya bukan usia 2024. Yang paling penting bagi kita semua sekarang adalah menyusun diri dengan perbedaan-perbedaan kita. Kita bisa nggak di 2024 melakukan hal-hal yang positif untuk pemerintahan bangsa ini?" tutur Desmond.(dtk)



Berita Lainnya :
  • Dinas PUPR Silaturahim Dengan Wartawan Nisel
  • Jalan Siwalawa-Onohondro Akhirnya Dikerjakan TA. 2019
  • Nenek Sebatang Kara Dibunuh dan Dirampok di Karawang
  • Pemprov Riau Lelang Transportasi JCH Rute Pekanbaru - Batam
  • 40 Mobil Dinas Pemko Pekanbaru Bakal Dilelang
  • Bupati dan Wabup Inhil Serahkan Lencana Gemilang Award
  • Gubernur Riau Lepas 700 Santri Asal Riau ke Jawa Timur
  • Pemprov Riau Prioritaskan Tenaga Pendidikan dan Kesehatan
  • Ini Sanksi yang Akan Dikenakan kepada 508 ASN Pemprov Riau
  •  
    Komentar Anda :
       


    Galeri   + Index Galeri
    Memperingati Hari Jadi Rohul ke - 18, DPRD Gelar Rapat Paripurna Istimewa

    Home | Daerah | Nasional | Hukum | Politik | Olahraga | Entertainment | Foto | Galeri | Advertorial | Lintas Nusantara | Kepulauan Nias
    Pekanbaru | Siak | Pelalawan | Inhu | Bengkalis | Inhil | Kuansing | Rohil | Rohul | Meranti | Dumai | Kampar
    Profil | Redaksi | Index
    Pedoman Berita Siber

    Copyright © 2009-2016 bidikonline.com
    Membela Kepentingan Rakyat Demi Keadilan