Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan Indonesia tengah dihantui berbagai macam krisis. Mulai dari krisis energi, pangan hingga keuang...[read more] "> Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan Indonesia tengah dihantui berbagai macam krisis. Mulai dari krisis energi, pangan hingga keuang" />
Selasa, 05 Juli 2022
Follow Us:
11:06 WIB - DPRD Riau Minta HGU PT Duta Palma Nusantara Dicabut | 11:06 WIB - Pilwako Pekanbaru 2024 Akan Habiskan Rp100 Miliar? | 11:06 WIB - Pimpin Apel Senin Pagi, Ini Pesan Wabup Rohil Sulaiman | 11:06 WIB - Juni 2022, Riau Inflasi 1,86 Persen | 11:06 WIB - DPRD Kampar Paripurnakan Laporan Banggar Terhadap RPP APBD 2021 | 11:06 WIB - BAZNas Siak Khitan Massal 100 Anak Kurang Mampu
/ Nasional / Jokowi Bicara Krisis Bertubi-tubi: Makin Tahu, Makin Ngeri /
Jokowi Bicara Krisis Bertubi-tubi: Makin Tahu, Makin Ngeri
Rabu, 22 Juni 2022 - 20:48:50 WIB

TERKAIT:
   
 
BIDIKONLINE.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan Indonesia tengah dihantui berbagai macam krisis. Mulai dari krisis energi, pangan hingga keuangan.

Menurutnya krisis yang datang bertubi-tubi ini dinyatakan telah menghantam berbagai negara di dunia. Situasi ini menandakan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.

"Beberapa krisis pernah kita alami, tetapi ini bertubi-tubi krisisnya. Krisis karena pandemi, mau pulih kemudian ada perang. Kemudian masuk dan merembet kemana-mana. Masuk ke krisis pangan, masuk ke krisis energi, masuk ke krisis keuangan. Kalau kita semakin tahu, semakin ngeri," ujarnya dalam Rakernas II PDI-P, Selasa (21/6).

Kepala negara ini menyebutkan krisis tersebut sudah terjadi di beberapa negara diantaranya Sri Lanka dan Pakistan. Dimana negara tersebut dinilai mengalami krisis pangan, energi hingga keuangan karena terjebak pada pinjaman utang yang sangat tinggi.

"Jadi sekali lagi, ngeri saya kalau lihat angka-angkanya," kata Jokowi.

Kondisi ini lah dinilai perlu diketahui oleh masyarakat luas, bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja dan berada dalam situasi yang berat. Salah satunya tercermin dari krisis energi dimana banyak negara yang tak mampu mensubsidi bahan bakar minyak (BBM) sehingga terjadi kenaikan harga.

Di Indonesia kenaikan harga BBM ini tidak terjadi. Sebab, pemerintah mengalokasikan anggaran hingga Rp502 triliun untuk mensubsidi energinya. Namun, Jokowi menekankan hal ini tidak akan bisa dilakukan terus menerus demi kesehatan keuangan negara.

Ia merinci di Indonesia harga pertalite Rp7.650 per liter dan pertamax Rp12.500 per liter sampai Rp13 per liter. Ini jauh berbeda dengan negara tetangga seperti Singapura dan Jerman sebesar Rp31 ribu per liter dan Thailand Rp20 ribu per liter.

"Kita masih Rp7.650 per liter. Tapi kita harus ingat subsidi kita besar sekali, bisa dipakai untuk membangun ibu kota karena angkanya sudah Rp502 triliun. Ini semua yang harus kita mengerti. Sampai kapan kita bisa bertahan dengan subsidi sebesar ini," pungkasnya.(rlc)



Berita Lainnya :
  • DPRD Riau Minta HGU PT Duta Palma Nusantara Dicabut
  • Pilwako Pekanbaru 2024 Akan Habiskan Rp100 Miliar?
  • Pimpin Apel Senin Pagi, Ini Pesan Wabup Rohil Sulaiman
  • Juni 2022, Riau Inflasi 1,86 Persen
  • DPRD Kampar Paripurnakan Laporan Banggar Terhadap RPP APBD 2021
  • BAZNas Siak Khitan Massal 100 Anak Kurang Mampu
  • Bupati Bengkalis Minta Pemuda dan Pelajar Sakai Terus Belajar
  • Bupati Meranti Tinggalkan Acara Dinkes Riau
  • Komisi IV DPRD Riau Melakukan Kunjungan Observasi ke DPRD Kepri
  •  
    Komentar Anda :
       


    Galeri   + Index Galeri
    Memperingati Hari Jadi Rohul ke - 18, DPRD Gelar Rapat Paripurna Istimewa

    Home | Daerah | Nasional | Hukum | Politik | Olahraga | Entertainment | Foto | Galeri | Advertorial | Lintas Nusantara | Kepulauan Nias
    Pekanbaru | Siak | Pelalawan | Inhu | Bengkalis | Inhil | Kuansing | Rohil | Rohul | Meranti | Dumai | Kampar
    Profil | Redaksi | Index
    Pedoman Berita Siber

    Copyright © 2009-2016 bidikonline.com
    Membela Kepentingan Rakyat Demi Keadilan